Rabu, 01 Mei 2013

Artikel

UMAR ANAK BAIK
Di sebuah desa yang terletak di pinggir hutan terdapat rumah tua yang sangat sederhana, tinggallah disana seorang lelaki tua yang bernama kakek jono dengan cucunya yang bernama umar yang baru berusia 5 tahun .
Kakek jono adalah seorang tunan netra sejak lahir setiap harinya dia berjalan dengan hati nuraninya, dengan sebatang tongkat yang terbuat dari kayu jati yang di haluskan dengan daun pisang yang sudah kering sehinga kelihatan bagus, kakek jono orang yang sangat baik dan perhatian terhadap umar. Hidup mereka sangat bahagia karena mereka hidup saling melengkapi
Suatu hari Kakek jono inggin berjalan jalan merasakan sejuknya angina yang berada di hutan, pak jono memangil Umar, “umar cucuku dimana kamu… ! saut umar ketika mendengar kakeknya memangil Umar langsung berlari dari dalam rumag yang tadinya umar lagi bermain di dalam, “Ya Kek, ada Apa…! Kakek pengen jalan –jalan di hutan merasakan sejuknya agin, Umar ? ya kek ! Apa bisa kamu temani kakek jalan-jalan ? … Bisa kek..!, dengan semangat umar bersedia menuruti ajakan kakeknya karena umar sangat sayang dengan kakeknya , umar masuk lagi kedalam rumah dan mengambil topi untuk kakeknya, “nih kek, kakek pakai topi biar kakek tidak kepanasan” terimakasih nak!
Kakek dan umar mulai menelusuri hutan merasakan agin segar, di depan mereka ada sebuah batu besar yang di lingkari pepohonan di sertai angina yang sepoi poi sehinga dedaunnan menari nari dengan tiupan angina itu, kesegaran dan keindahan hutan Nampak dilihat di atas batu besar itu, kakek dan umar singah dan duduk santai merasakan kesejukan agin dan pemandangan di sekitar hutan.dengan semagat umar mulai berbincang-bincang dengan kakek, gimana kek rasanya…? Wah Umar cucuku terimakasihya nak kamu telah menemani kakek dan menikmati indahnya alam ini ya meskipun kakek gak bisa melihat, Kek,,, kek umar boleh Tanya tidak kek! Tanya apa umar..! jawab kakek dengan nada pelan, umar mulai berbicara, “ kak apa kakek selama ini senag hidup seperti ini ? kenapa cucuku kamu bertanya begitu pada kakek, cucuku umar kakek sangat bersukur dan sangat bahagia sekali,,,” Bahagian karena apa Kek,,,? “ karena kakek punya cucuk yang baik, sopan nurut sama kakek, “tapi kek,! tapi apa cucuku…! Kakek kan tidak bisa melihat umar dan tidak bisa melihat semunya kenapa kakek senag,,,”cucuku kakek meskipun tidak bisa melihat tapi kakek bisa merasakan semuanya dengan perasaan kakek, sejenak umar terdiam dan langsung memeluk kakek, dengan perasaan sedih dan air mata yang keluar dari mata umar, kakek…. maafkan umar ya kek karena umar tidak bisa menjaga kakek, umar gak bisa mengobati kakek, umar cucuku… kamu anak yang baik yang selalu menemani kakek disaat kakek mau berjalan, makan, tidur jalan-jalan kamu kan selalu disamping kakek, sambil meraba mata umar dan mengusap airmata umar, cucuku kakek berharap kelak kamu nanti dewasa selalu semagat dan bermanfaat untuk orang lain, membantu teman-teman umar, saling menghormati dan menghargai, jangan merasa umar tinggal di dekat hutan umar menjadi anak pendiam dan bodoh, umar harus selalu belajar karena umar anak yang cerdas dan pintar. Ya kek umar akan selalu ada disamping kakek dan umar akan selalu belajar agar umar bisa pintar.
Sinar Matahari sudah mulai panas kakek dan umar melagkahkan kakinya untuk kembali pulang Kakek dan umar setelah lama di tengah hutan merasakan segarnya agin, kakek dan umar kembali menuju ke rumah , kak, kakek haus tidak..? Tanya umar, Ya umar kakek sangat haus, tunggu ya kek ummar ambilkan air didalam, sambil mendudukan kaknya ketempat duduk yang berada di samping kiri pintu, kek kakek umar memangil, ini kek airnya, terimakasih ya cucuku,umar kembali kedalam, mengil lagi dengan bicara agak keras ya kek, umar… pagil kakek, ya kek, antarkan kake ke dapur, kakek mau apa, kakek mau mengajarkan kamu memasak, pa kek memasak umarkan laki-laki masak harus masak, pertama kali umar membantah ajakan kakek, Umar kamu kan anak yang baik pintar tapi kan kek ini memasak kek umar tidak bisa, kakek dengan seketika pa yang tidak bisa belum di coba kok meyerah, ok kek umar langsung semagat, pada saat itu, lagian kalu kakek sakit parah siapa lagi yang akan memasak nasi buat kakek..ya ke, memotong pembicaraan kakeknya, kakek gak boleh bicara begitu lagi ya kek, umar pengen kakek selalu ada di sampaing umar, ha..ha..ha… cucuku kita hidup ini untuk mati, tidak ada manusia yang akan hidup terus, ya kek,,,sudah kek tidak usah dilanjutkan, umar pokoknya tidak mau kehilangan kakek. Kek ini tempe gorengya buatan ala umar sudah jadi”…mana cucuku, ni kek , umar mengabil satu potongan tempe yang baru di goreng umar, gimana kek rasanya,… enak nak enak tenan, ha ha ha siapa dulu umar,,,! celetus umar. Ayou kek ke meja depan kita makan siang bersama-sama,,, umar memegang tanggan kakek dan berjalan menuju ke meja makan, sambil makan umar dan kakek berbincang-bincang lagi kek Tanya umar kapan-kapan kita ke kota ya kek ikut ibu dan bapak, kakek kan sudah tua dan aq juga harus sekolah kek, masak kakek mau tingal sendirian di sini, ya jelas dong cucuku , kakek mau kemana lagi kalau tidak ikut kalian, dengan gembira dan tersenyum umar bilang terimakasih ya kek.
Suatu hari terdengan suara mobil yang sedang parker di depan rumah umar mencoba untuk keluar dan membuka pintu,,, sambil terdiam dan berdiri di depan pintu umar terus melihat dari sebelah kiri dan kanan mobil menunggu seorang yang keluar dari mobil,,,setelah beberapa menit seorang dari sebelah kiri mobil, membuka pintu mobilnya dan terlihat sesosok wanita yang berpakian rapi an melihat kearah rumah,,,, ibu ibu ibu umar berlari dan menghampiri ibunya sambil memeluk dan menagis,” ibu umar kangen dengan ibu,,,! Sama nak ibu juga kangen sama umar, selama dua tahun umar pisah dengan Ibu dan Bapaknya, dengan perasan kangen yang senakin dalam umar tidak mau melepaskan pelukanya, bapak yang keluar dari pintu mobil sebelah kanan memeluk umar juga, akhirnya mereka bisa perkumpul dengan keluarga besar dan sekarang mereka tingal di kota.

Tidak ada komentar: